Sejak saat itu, pohon cemara kemudian menjadi bagian dari perayaan Natal di Jerman dan dianggap sebagai "pohon surga" yang mewakili taman Eden.
Tradisi menghias pohon hijau pada musim dingin terus berlanjut hingga abad pertengahan dan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat di Eropa pada perayaan Natal tiap tahunnya.
Pada masa itu, masyarakat menghias pohon cemara dengan lilin dan buah-buahan untuk menyambut musim semi sebagai simbol kehidupan baru.
Martin Luther, seorang tokoh reformasi gereja, diyakini menjadi orang pertama yang menambahkan lilin-lilin kecil pada pohon cemara untuk melambangkan bintang-bintang di langit saat kelahiran Yesus Kristus.
Tradisi ini kemudian diadopsi oleh umat Kristiani pada abad ke-16 di Jerman yang menyebut pohon surga telah berevolusi menjadi pohon natal.
Dari Jerman, tradisi menghias Pohon Natal menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke negara-negara Barat dan akhirnya menjadi bagian penting dalam perayaan Natal.
Namun, tradisi menghias pohon cemara ini juga berdampak buruk karena penebangan yang berlebihan di hutan Eropa terutama Jerman.
Oleh karena itu, seiring waktu dibuat pohon natal tiruan yang dibuat dari aluminium dan plastik sehingga bisa digunakan berkali-kali pada perayaan Natal tiap tahunnya.
Pohon Natal bukan sekadar dekorasi, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Kristiani.
Pohon Cemara yang tetap hijau melambangkan kehidupan kekal, harapan, dan keteguhan iman kepada Tuhan. Keindahan dan keunikan pohon ini menjadi simbol universal yang mudah dikenali di berbagai budaya dan tradisi.
Bentuk pohon yang mengerucut ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, mengingatkan umat Kristiani akan kasih karunia-Nya. Pohon yang menjulang ke langit juga dianggap sebagai pengingat hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Selain itu, ornamen-ornamen dan lampu di pohon Natal melambangkan terang Kristus yang menerangi dunia, serta sukacita yang diberikan-Nya kepada umat manusia.