SketsaNusantara.id - Ketika anak sudah berusia 8 bulan, ia mulai bisa mengenali ayah, ibu, dan orang-orang terdekatnya.
Kondisi tersebut menyebabkan ia kerap merasa cemas jika merasa ditinggalkan. Hal ini normal karena merupakan bagian dari fase normal perkembangan otak anak.
Namun, situasi ketika anak cemas dan bahkan menangis itu tentunya tidak baik. Pasalnya, anak akan mengalami ketergantungan yang efeknya juga kurang bagus untuk pertumbuhannya.
Baca Juga: 5 Sifat Anak yang Diam-Diam Diturunkan dari Ayahnya: Nomor 2 Jangan Sampai Lengah, Bro
Anak merasa cemas atau menangis karena otaknya menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman. Ia merasa 'dibohongi' sehingga semakin sulit untuk ditinggal.
Lalu, apa yang mesti dilakukan orang tua jika si kecil sering merasa cemas atau menangis padahal cuma ditinggal ke dapur atau kamar mandi?
Dilansir dari unggahan akun Instagram @psikologianak.ig, untuk mendukung kecerdasan emosional si kecil, orang tua jangan membiasakan pergi diam-diam.
Baca Juga: Anak Tantrum karena Minta Mainan? Jangan Langsung Belikan, Orang Tua Wajib Perhatikan 5 Tips Penting
Dalam metode parenting, orang tua harus menciptakan semacam ritual perpisahan kepada anak, meskipun itu cuma ke dapur atau kamar mandi.
Nah, ada beberapa contoh yang bisa dilakukan untuk melatih kecerdasan emosional anak, yakni:
1. Pamitan secara jelas dan sederhana. Misalnya, bilang kalau ayah hendak pergi kerja (atau tempat tujuan), kasih tahu anak untuk sementara menunggu sampai balik.
2. Rutinitas salam dadah, ciuman, atau pelukan. Cara ini juga efektif agar membiasakan anak terlatih dengan kondisi tersebut.
3. Setelah pulang, apresiasi anak. Pujilah dia dan ucapkan terima kasih karena telah mau menunggu.
Orang tua wajib memahami bahwa ritual perpisahan sangat penting bagi pertumbuhan kecerdasan emosional anak.