"Zaman sekarang, orang tua angkat tangan dengan kelakuan anak-anak membandel, keras kepada dan suka melawan. Sudah gak mempan dinasehati, bawa saja ke kantor polisi," komentar akun X @Rizieq_Sangean.
Dalam pandangan ini, membawa anak ke kantor polisi dianggap sebagai salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua untuk memberikan rasa takut dan diharapkan membuat anak lebih patuh.
Namun, ada pula warganet yang mempertanyakan dampak psikologis pada anak dari tindakan tersebut yang bisa menimbulkan trauma.
"Disiplinkan anak seperti ini kayanya lebih efektif dan lebih murah daripada dibawa ke konseling ke psikolog. Cuma apakah ini menimbulkan efek jera atau malah bikin anak jadi trauma?" komentar akun @bukanpamanmu.
Lantas, benarkan tindakan mendisiplinkan anak seperti dalam video viral Ibu di Gorontalo bisa menimbulkan trauma?
Dilansir dari laman Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim), tindakan mendisiplinkan anak secara ekstrem memang bisa membawa dampak trauma pada anak.
Beberapa psikolog menyebutkan bahwa pengalaman negatif yang melibatkan otoritas seperti polisi bisa membuat anak merasa cemas, takut, dan merasa terasingkan.
Proses mendisiplinkan anak biasanya dilakukan dengan mendahulukan komunikasi dengan menanamkan pengertian pada anak dan pembicaraan penuh kasih sayang, bukan dengan menanamkan rasa takut.
Mendisiplinkan anak dengan cara terlalu keras juga bisa merusak hubungan orang tua dan anak serta mempengaruhi kepercayaan diri anak dalam jangka panjang.
Selain itu, anak-anak pada usia remaja yang masih dalam tahap pengembangan diri sehingga tindakannya mungkin kurang bisa diterima oleh orang tua.
Membawa anak remaja yang menangis ketakukan ke kantor polisi seperti dalam video viral, bisa menyebabkan perkembangan mental sang anak terganggu.