Meski agama Islam perlahan sudah mulai banyak penganutnya, namun saat itu pengaruh budaya agama Hindu masih melekat dalam tradisi masyarakat di Indonesia
Sehingga perpaduan antara 2 agama tersebut masih saling memegaruhi adat dan tradisi masyarakat.
Awalnya, Sunan Kalijaga memperkenalkan Bakda Lebaran atau Bakda Kupat yang merupakan budaya yang dimulai satu minggu setelah lebaran.
Akhirnya, banyak masyarakat yang menganyam dan mempersiapkan hidangan ketupat. Secara perlahan, budaya ini terus melekat dan masih lestari hinga saat ini.
Ketupat berasal dari kata ‘Kupat’ dan memiliki arti ganda. Yang pertama yaitu ‘ngaku lepat’ atau ‘mengakui kesalahan’.
Kemudian yang kedua adalah ‘laku papat’ yang artinya ‘empat tindakan’. Empat Tindakan yang dimaksud yaitu luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar), dan laburan (menyucikan diri).
Lalu, beras yang menjadi isian ketupat juga memiliki makna tersendiri yakni menjadi simbol hawa nafsu.
Daun kelapa muda atau janur yang menjadi pembungkus ketupat adalah akronim dari ‘jatining nur’ yang berarti ‘cahaya sejati’ atau ‘hati nurani’.
Jadi ketika digabungkan, ketupat memiliki makna manusia yang sedang melawan hawa nafsu dengan hati nuraninya.
Itu dia makna ketupat yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu di momen lebaran. Ternyata di balik hidangan yang enak dan lezat, terdapat sejarah dan makna filosofisnya.
Semoga dapat menambah ilmu tentang lebaran atau Idul Fitri yang tidak lama lagi akan segera tiba.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!